Efektivitas Pembelajaran Blended Learning pada Pelatihan Kepemimpinan Administrator di BPSDMD NTB
Abstract
Perkembangan teknologi informasi mendorong transformasi pembelajaran di sektor publik, termasuk Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). Model blended learning yang menggabungkan pembelajaran tatap muka dan daring dinilai mampu menjawab tantangan peningkatan kompetensi manajerial di era digital. Namun, evaluasi mendalam terhadap efektivitas penerapannya di lingkungan birokrasi daerah, khususnya di BPSDMD NTB, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur efektivitas blended learning dalam PKA, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat, serta memberikan rekomendasi strategis bagi pengembangannya di masa depan. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan data yang dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan studi dokumentasi, dilengkapi kuesioner berbasis Skala Likert. Informan terdiri dari fasilitator, pengelola pelatihan, dan peserta PKA. Hasil penelitian menunjukkan blended learning berada pada kategori Baik–Sangat Baik dengan skor rata-rata 4,38. Skor tertinggi (4,7) diperoleh pada indikator kebermanfaatan studi kasus lokal, sedangkan skor terendah (4,0) terdapat pada motivasi mengikuti sesi daring. Lima temuan utama meliputi: partisipasi daring tinggi namun interaksi verbal rendah, kendala koneksi internet, efektivitas tinggi sesi tatap muka, peran fasilitator yang perlu pengayaan metode daring, dan relevansi tinggi materi dengan tugas jabatan. Kesimpulannya, blended learning terbukti efektif meningkatkan kompetensi manajerial peserta dan berpotensi menjadi model pelatihan rujukan nasional jika hambatan teknologi diatasi. Rekomendasi meliputi penguatan infrastruktur teknologi, inovasi metode pembelajaran daring, peningkatan kapasitas fasilitator, serta perluasan studi kasus berbasis konteks lokal.

