Efisiensi Ketahanan Pangan Komoditas Volatile Food Dalam Pengendalian Inflasi: Studi Kasus Regional Sumatera Pendekatan DEA
Abstract
Ketahanan pangan merupakan isu strategis dalam pembangunan daerah karena berkaitan erat dengan stabilitas harga dan inflasi. Namun kenyataannya stabilitas harga pangan masih menjadi tantangan utama. Inflasi yang terjadi di berbagai Provinsi Regional Sumatra banyak dipicu oleh fluktuasi harga bahan pokok terutama dari komoditas Volatile Food. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya evaluasi efisiensi ketahanan pangan antardaerah. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai tingkat efisiensi relatif di setiap provinsi, mengidentifikasi provinsi yang telah berhasil mengoptimalkan sumber daya komoditas Volatile Food yang dimiliki dalam pengendalian inflasi serta Bechmarking Provinsi yang dapat dijadikan percontohan serta memberikan rekomendasi strategis dalam pengendalian inflasi. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif statistik non parametrik Data Envelopment Analysis (DEA) untuk mengukur efisiensi ketahanan pangan komoditas volatile food dalam pengendalian inflasi di regional Sumatera. Hasil analisis DEA menunjukkan bahwa dari Sepuluh Provinsi di Regional Sumatera, Enam Provinsi berada dalam kategori efisien dalam pengendalian inflasi dengan input komoditas volatile food, sedangkan Empat Provinsi lainnya masih belum efisien meskipun cengerung memiliki produktivitas pangan yang tinggi. Provinsi yang belum efisien dapat melakukan benchmarking kepada Provinsi efisien berdasarkan hasil analisis dalam penelitian ini. Provinsi Bengkulu dan Kepulauan Riau konsisten menjadi Daerah benchmark, atau Daerah yang menjadi referensi dalam penegndalian inflasi. Rekomendasi kebijakan yang dapat dilakukan adalah mendorong kolaborasi dan pembelajaran antardaerah (Peer-to-Peer Learning), reorientasi kebijakan dari fokus produksi ke fokus efisiensi sistem logistik dan distribusi pangan, serta penyusunan rencana aksi yang lebih spesifik dan terukur untuk setiap Provinsi yang masih belum efisien dalam penegendalian inflasi.

