Evaluasi Pasca Pelatihan AMTC BBPK Ciloto 2024: Implementasi Kompetensi, Dampak Kinerja, Dukungan dan Hambatan
Main Article Content
Abstract
Desentralisasi kesehatan mendorong pengembangan program kesehatan berbasis data yang efektif dan sesuai kebutuhan daerah. Hal tersebut perlu ditunjang dengan SDM yang kompeten dalam perencanaan dan manajemen program kesehatan. Sebagai upaya peningkatan kompetensi tersebut, Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Ciloto menyelenggarakan Pelatihan Manajemen Terapan bagi Pengelola Program Kesehatan (AMTC - Applied Management Training Course) pada 2024. Untuk mengetahui keberhasilan pelatihan dilakukan Evaluasi Pasca Pelatihan (EPP) dengan menggunakan pendekatan Kirkpatrick’s Training Evaluation pada level 3 (perilaku) dan level 4 (hasil). Kajian EPP ini dilakukan dengan mixed method study, dengan menggunakan instrumen berupa kuesioner dan panduan wawancara. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 21 orang (80,8%) dari total 26 alumni peserta pelatihan, dan 10 rekan kerja serta 5 orang atasan alumni yang bersedia berpartisipasi dalam FGD. Hasil evaluasi menunjukkan 90,5% alumni menerapkan keterampilan Quality Improvement Process (QIP). Namun, sebagian besar (66,67%) menerapkannya secara parsial, dominan pada tahapan pemilihan masalah berbasis data, verifikasi akar masalah, pengukuran hasil, dan penyusunan rencana tindak lanjut. Selain itu, 95,2% alumni mengimplementasikan keterampilan Health Analysis for Planning Prevention Services (HAPPS), dengan 76,2% penerapannya juga bersifat parsial, terutama pada penetapan tujuan, evaluasi program, serta pengembangan rencana kerja dan anggaran. Pelatihan berdampak signifikan pada peningkatan keterampilan intra dan interpersonal, khususnya kemampuan menyusun prioritas (57,1%) serta pengawasan dan kontrol (52,4%). Implementasi QIP dan HAPPS terbukti memberikan dampak positif terhadap kinerja organisasi. Dampak ini mencakup efisiensi waktu penyelesaian pekerjaan, peningkatan jumlah output tanpa penambahan sumber daya, penghematan operasional, serta perbaikan sistem kerja melalui pembentukan SOP/regulasi dan peningkatan kepatuhan terhadap standar mutu. Dukungan yang paling dirasakan adalah dukungan pimpinan dan kerja sama tim yang baik, sedangkan keterbatasan waktu, dana/anggaran, sumber daya manusia, serta sarana prasarana.
Health decentralization encourages the development of effective, data-driven health programs tailored to regional needs. This initiative must be supported by competent human resources in health program planning and management. To enhance these competencies, the Ciloto Center for Health Training / Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Ciloto organized the Applied Management Training Course (AMTC) for Health Program Managers in 2024. To assess the effectiveness of the training, a Post-Training Evaluation (PTE) was conducted using the Kirkpatrick Training Evaluation Model at Level 3 (Behavior) and Level 4 (Results). This PTE study employed a mixed-methods design, utilizing questionnaires and interview guides as research instruments. The respondents consisted of 21 individuals (80.8%) out of a total of 26 training alumni, along with 10 colleagues and 5 supervisors who participated in Focus Group Discussions (FGD). The evaluation results indicated that 90.5% of the alumni applied Quality Improvement Process (QIP) skills. However, the majority (66.67%) implemented them partially, predominantly in the stages of data-driven problem selection, root cause verification, outcome measurement, and the formulation of follow-up plans. Furthermore, 95.2% of the alumni implemented Health Analysis for Planning Prevention Services (HAPPS) skills, with 76.2% applying them partially, particularly in goal setting, program evaluation, and the development of work plans and budgets. The training significantly impacted the improvement of intra- and interpersonal skills, specifically in prioritization (57.1%) as well as supervision and control (52.4%). The implementation of QIP and HAPPS demonstrated a positive impact on organizational performance. These impacts encompass efficiency in task completion time, increased output without additional resources, operational cost savings, and work system improvements through the establishment of Standard Operating Procedures (SOPs)/regulations and enhanced compliance with quality standards..
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Penulis yang menerbitkan naskahnya pada jurnal ini setuju dengan beberapa hal berikut ini:
- Penulis memiliki hak cipta dan memberikan hak publikasi pertama pada jurnal ini dengan karya yang dilisensikan secara bersamaan di bawah Creative Commons Attribution License yang memungkinkan orang lain untuk berbagi karya dengan memberikan pengakuan kepengarangan publikasi awal pada jurnal ini.
- Penulis dapat mengadakan perjanjian kontrak tambahan yang terpisah untuk distribusi non-eksklusif versi jurnal yang diterbitkan dari karya tersebut (misalnya mempostingnya ke repositori institusional atau menerbitkannya dalam sebuah buku), dengan mencatumkan sumber publikasi awal pada jurnal ini.
- Penulis diizinkan dan didorong untuk memposting pekerjaan mereka secara online (misalnya dalam repositori institusional atau di situs web mereka) sebelum dan selama proses pengiriman naskah pada jurnal ini, karena hal itu dapat menyebabkan pertukaran yang produktif, serta kutipan yang lebih awal dan lebih besar dari karya yang diterbitkan.
References
Ansell, C., & Gash, A. (2008). Collaborative governance in theory and practice. Journal of Public dministration Research and Theory, 18(4), 543–571.
Baldwin, T. T., & Ford, J. K. (1988). Transfer of training: A review and directions for future research. Personnel Psychology, 41(1), 63–105.
Bass, B. M., & Riggio, R. E. (2006). Transformational leadership. Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum Associates.
Batalden, P., & Davidoff, F. (2007). Quality and Safety in Health Care.
Burke, L. A., & Hutchins, H. M. (2007). Training Transfer: An Integrative Literature Review. Human Resource Development Review, 6(3), 263–296.
Chu, H. L., Wang, C. C., & Shiu, S. F. (2009). Effect of participating in Taiwan Quality Indicator Project on hospital efficiency in Taiwan. Journal of Health Care Finance, 35(4), 32.
Endalamaw, A., Khatri, R. B., Mengistu, T. S., et al. (2024). A scoping review of continuous quality improvement in healthcare system: conceptualization, models and tools, barriers and facilitators, and impact. BMC Health Services Research, 24, 487. https://doi.org/10.1186/s12913-024-10828-0
Fixsen, D. L., et al. (2005). Implementation research: A synthesis of the literature. Tampa: University of South Florida.
Greco, G., et al. (2024). Primer Part 1 – Preparing a Laboratory Quality Improvement Project. Clinical Biochemistry, 127–128, 110764. https://doi.org/10.1016/j.clinbiochem.2024.110764
Holton, E. F., Bates, R. A., & Ruona, W. E. A. (2000). Development of a generalized learning transfer system inventory. Human Resource Development Quarterly.
Kemenkes (2016). Kurikulum Pelatihan Manajemen Terapan bagi Pengelola Program Kesehatan.
Kern BK. (2025) Implementation of a unit- specific quality improvement process for prevention of hospital- acquired pressure injuries. BMJ Open Quality 2025;14:e003379. doi:10.1136/ bmjoq-2025-003379
Kirkpatrick, D. L., & Kirkpatrick, J. D. (2006). Evaluating training programs: The four levels. San Francisco: Berrett-Koehler.
Knowles, M. S., Holton, E. F., & Swanson, R. A. (2015). The adult learner. New York: Routledge Mdledle, Z., & Johannes, E. (2024). Implementation Of Quality Improvement Plans: Effectiveness
Or Compliance? A View From The South. In INTED2024 Proceedings (pp. 7186-7192). IATED.
Noe, R. A. (2017). Employee Training and Development. McGraw-Hill.
Nuryanto, N., Ma’aruf, F., & Purnomo, B. C. (2024). Analisis Kualitas Proses Layanan Kesehatan Lingkungan Dengan Pendekatan Quality Improvement Process (QIP). Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, 23(2), 215-225. https://doi.org/10.14710/jkli.23.2.215-225, diakses pada https://ejournal.undip.ac.id/index.php/jkli/article/view/59345
Nuryanto, Fauzan Ma'ruf, and Bayu Chondro Purnomo. "Implementasi Target Capaian sebagai Upaya Peningkatan Jumlah Layanan Klinik Sanitasi." Buletin Keslingmas 43.1 (2024): 26-32.
O'Leary, K. J., Fant, A. L., Thurk, J., Bilimoria, K. Y., Didwania, A. K., Gleason, K. M., Groth, M., Holl,
J. L., Knoten, C. A., Martin, G. J., O'Sullivan, P., Schumacher, M., & Woods, D. M. (2019). Immediate and long-term effects of a team-based quality improvement training programme. BMJ quality & safety, 28(5), 366–373, diakses pada https://doi.org/10.1136/bmjqs-2018-007894
Rangyyan, R. M., Dhale, S., Saha, T., & Mondal, R. (2020). Effectiveness of the quality improvement program (QIP) implemented in Superspeciality hospitals.
Rollinson, T. J., Furnival, J., Goldberg, S., & Choudhury, A. (2021). Learning from Lean: a quality improvement project using a Lean-based improvement approach to improve discharge for patients with frailty in an acute care hospital. BMJ Open Quality, 10(4), e001393.
Salas, E., Tannenbaum, S. I., Kraiger, K., & Smith-Jentsch, K. A. (2012). The science of training and development in organizations. Psychological Science in the Public Interest, 13(2), 74–101.
World Health Organization. (2010). Evaluating training in WHO.
Wijayanti, E. W., Isfandiari, M. A., & Purnomo, A. Y. (2025). Jalur Intervensi Hipertensi Menggunakan Metode HAPPS (Health Analysis for Planning Prevention Service) di Kabupaten Magetan. Jambura Journal of Health Sciences and Research, 7(2).
Wulandari, R., Ramadhan, R. R., Fani, M. I., & Bachtiar, M. (2026). Implementasi program pelatihan: Kajian sistematis tentang tahapan dan dampak pengembangan sumber daya manusia. Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial & Hukum, 4(3), 9259–9267. https://doi.org/10.61104/alz.v4i3.6810